Font Size

Screen

Profile

Layout

Direction

Menu Style

Cpanel

Mithos jerawat, berikut tips ringan bagi usia pubertas

01
Dec 2010
  • PDF
01 Dec 2010

Sample image

JERAWAT, bagi banyak orang adalah sebagai problem yang menjengkelkan. Terlebih ketika usia pubertas, fase ketika sedang memperluas interaksi sosial. Juga mulai mengalami ketertarikan dengan lawan jenis, namun akibat jerawat ini yang berpengaruh terhadap performa sekaligus berdampak pula terhadap krisis kepercayaan diri (confidence) seseorang. Fase umur pubertas ini, secara internalnya hormonal memang mulai "gonjang-ganjing". Maka lazim bila fase ini untuk kebanyakan remaja mengalami problem jerawat.

Selain korelasinya dengan fase menuju kematangan dewasa (awal) tersebut, sering kita mendengar opini mulai dari bisik-bisik, sampai ke mithos "bahwa jerawat erat dengan konsumsi protein kuning telur, atau karena darah kotor". Waduh, apalagi ini??

Ketika fase pubertas terlewati pun namun sang jerawat masih menjadi problematika, tentunya akan sangat menjengkelkan apalagi jerawat disertai dengan abses (nanah). Mungkin karena kurangnya pemahaman yang logis terhadap masalah ini, menyebabkan tidak sedikit orang yang justru "berpantang-ria, menabukan mengkonsumsi protein, juga susu". Atau memilih memakai produk kosmetika massal yang banyak beredar dengan tidak mengindahkan petunjuk pemakaiannya. Tanpa didampingi rekomendasi dokter yang menguasai dermatologi. Walhasil seringnya malah menjadi lebih runyam karena tidak sesuai harapan pengidap jerawat.

Sekedar tips, pada usia pubertas karena peran hormon sesungguhnya sang jerawat tak perlu dicemaskan. Hal yang mudah dilakukan adalah secara periodik membersihkan kulit wajah dengan cara tertentu, dan mengindahkan rekomendasi para ahli dalam menentukan jenis sabun dan kosmetika.

Perhatikan pula keseimbangan pola makan, dengan tidak mengkonsumsi yang pedas-pedas. Sikapi stresh secara proporsional dan perhatikan pola tidur, hindari kebiasaan begadang karena juga memiliki pengaruh yang signifikan. Bagaimana dengan kemungkinan karena genetika atau keturunan?? Tentunya untuk lebih detail sekaligus mendapatkan terapi, konsultasikan saja ke dokter yang memiliki pemahaman pengatahuan kulit atau dermatologi.

(eref, diolah dari berbagai sumber).

Last Updated on Thursday, 09 December 2010 13:16

You are here: